ungkapan cinta fachriza

warna cinta sang anis matta

Blog EntryTemu Jiwa Sentuh FisikFeb 11, '08 8:17 PM
for everyone

Sholatnya panjang dan Khusyuk. Keluh dan resah mengalir dalam doa-doa. Hasrat dan rindu merangkak bersama malam yang kian kelam. Usai shalat akhirnya rebah  di pembaringan. Cemasnya belum lunas. Lama sudah suaminya pergi. Untuk jihad, memang . tapi cinta tetaplah cinta. Walau pun untuk jihad, perpisahan selalu membakar jiwa dengan rindu. Maka ia pun rebah dengan doa-doa;

 

”Ya Allah, Yang memperjalankan unta-unta, menurunkan kitab-kitab, memberi para pemohon, aku memohon kepada-Mu agar Engkau mengembalikan suamiku yang telah pergi lama, agar dengan itu engkau lepaskan resahku. Engkau gembirakan mataku. Ya Allah , tetapkanlah hukum-Mu diantara aku dan khalifah Abdul Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami.”

 

Untungnya malam itu khalifah Abdul Malik bin Marwan memang sedang menyamar di tengah pemukiman warga. Tujuannya, ya tadi; mencari tau opini warga soal pengiriman mujahidin ke medan jihad, khusus istri-istri mereka. Dan suara itulah yang ia dengar.

 

Ini tabiat ynag membedakan cinta jiwa dengan cinta misi; pertemuan jiwa dalam cinta jiwa hanya akan menjadi semacam penyakit jika tidak berujung dengan sentuhan fisik. Di sini rumus bahwa cinta tidak harus memiliki tidak berlaku.

 

Cinta jiwa bukan sekedar kecendrungan spritual seperti yang ada dalam cinta misi. Cinta jiwa mengandung kadar syahwat yang besar. Dari situ akar tuntutan sentuhan fisik berasal. Mereka menyebutnya passinate love. Tanpa itu, cinta jiwa akan menjelma menjadi kerinduan yang membawa semua penyakit. Sebagiannya akan berujung kegilaan. Seperti dialami Qais dan Laila.

 

Ini mengapa kita diperintahkan mengasihi para pecinta; supaya mereka terhindar dari cinta yang seharusnya menjadi energi lantas berubah menjadi penyakit. Maka sentuhan fisik dalam semua bentuknya adalah obat yang mujarab bagi rindu yang tak pernah selesai. Ini penjelasan mengapa hubungan badan antar suami istri merupakan ibadah besar, tradisi kenabian dan kegemaran orang shalih. Sebab, kata Ibnu Qayyim dan Imam Ghazali, ia mewariskan kesehatan jiwa dan raga, mencerahkan pikiran, meremajakan perasaan, menghilangkan pikiran dan perasaan buruk, membuat kita lebih awet muda dan memperkuat hubungan cinta kasih. Makna sakinah dan mawaddah adalah ketenangan jiwa yang tercipta setelah gelora hasrat terpenuhi.

 

Maka itu yang dipahami Abdul Malik bin Marwan. Maka ia pun bertanya,”Berapa lama wanita bisa bertahan sabar?” “Enam bulam” jawab mereka. Kisah ini sebenarnya mengikut pada temuan yang sama di masa Umar bin Khattab. Dan di kedua kisah itu, kedua perempuan itu sama-sama melantunkan syair rindu hasrat. Dan Abdul Malik bin Marwan mendengar bait ini;

Air mata mengalir bersama larut malam

Sedih mengiris hati dan merampas tidur

Bergulat aku lawan malam

Terawangi bintang

Hasrat rindu mendera-dera

Melukai jiwa

 

Memang hanya puisi tempat jiwanya berlari. Melepas hasrat yang tak mau lepas. Sebab rindu tetap saja rindu. Puisi tak akan pernah sanggup menyelesaikannya.Sebab memang begitulah hukumnya; hanya sentuhan fisik yang bisa merasa hasrat jiwa.

 



© . Serial Cinta edisi 45, Tarbawi.

 


Blog Entry"Kekuatan Cinta"Jan 8, '08 9:59 PM
for everyone
Kekuatan cinta bukan dari tanah, air dan udara,
kekuatannya bukan keliatan urat asalnya;
cinta menundukkan Khaibar tanpa kesulitan,
cinta membelah badan bulan,
cinta memecahkan tengkorak Namrod tanpa pukulan,
menghancurkan tentara Fir'un tanpa pertempuran.

(puisi Iqbal, penyair Islam terkenal)

Blog EntryKelezatan Akal BatinJan 7, '08 8:48 PM
for everyone

Kelezatan Akal Batin

Oleh Anis Matta©

 

Bukan hanya kelezatan ruhani. Cinta misi juga memberikan kita kelezatan lain. Kelezatan akal batin. Akal adalah kekuatan yan memberikan kita kemampuan memahami. Akal memproses semua informasi yang masuk ke dalam otak kita melalui pancaindra atau penalaran. Hasil pemrosesan itulah yang kemudian melahirkan sikap dan tindakan. Buah dari akal itulah yang kemudian kita sebut pikiran. Tapi dalam diri manusia ada kemampuan akal yang lebih tinggi. Yaitu kemampuan untuk memikirkan pikiran-pikiran yang merupakan buah proses akal. Ini adalah pikiran diatas pikiran. Atau akal kedua. Atau akal batin.

 

Seperti ketika kita memandang awan dari bumi, ia akan tampak satu lapis gugus awan. Tapi ketika kita naik pesawat, kita akan menemukan bahawa awan itu adalah gugus berlapis. Kemampuan untuk memikirkan pikiran, baik pikiran kita sendiri atau pikiran orang, akan memberi kita kelezatan yang luar biasa. Bayangkan anda memandang sosok tubuh dengan pakain lengkap. Tapi sorot mata Anda mampu menenbus  ke dalam tubuhnya dan menyaksikan semua yang ada di sana. Seperti isi bagasi yang terlihat jelas dalam X-Ray. Itu kelezatan: karena pengetahuan itu memberi kita kesadaran yang berbeda.

 

Dengan kelezatan itulah kita rasakan dalam cinta misi. Ini sedikit berbeda dengan kelezatan ruhani. Kelezatan ruhani bersifat vertikat  dan terkait dengan perasaan diterima disisi Allah serta janji surga di akhirat . Sedangkan kelezatan akal batin bersifat herizontal dan terkait dengan kesadaran serta  pemahaman yang mendalam tentang dunia batin anak manusia, tentang pergolakan jiwanya dalam mewadahi pertarungan antara sisi baik dan sisi buruknya, tentang peristiwa menang kalah dalam pertarungan itu. Memahami itu semua ibarat menyerap air kehidupan melalui pori-pori kita. Kelezatan akal natin terkait dengan perasaan  bahwa kita bermanfaat bagi orang banyak… perasaan bahwa di laut kehidupan yang luas ini kita telah ikut menyumbangkan beberapa tetes air…

 

Kesadaran itu menyatukan diri kita. Sebab cinta  misi lahir untuk menciptakan kehiduapan yang lebih baik bagi manusia. Sebab cinta misi tumbuh untuk membuat bumi jadi sepetong surga yang nyaman dihuni. Kita menyatu sebagai manusia: pada asal usul, pada jalan hidup, pada tujuan akhir. Ini kesatuan  kemanusiaan yng membuat space of human kita terbentang begitu luas  di jagat raya dan dalam batin.

 

Perasaan itu mengalirkan kelezatan dalam akal batin kita. Seperti kelezatan raga yang kita rasakan saat kita menghirup udara bersih musim semi. Atau angin sepoi dipenghujung senja. Kelezata akal batin itulah terangkum dalam sabda Rasul: “ Bahwa Allah memberi hidayah kepada seorang manusia melalui usahamu adalah lebih baik bagimu dari seluruh dunia ini dan isinya.”

 

 



© . Serial Cinta edisi 32, Tarbawi.


Blog EntryKuasa dan CintaDec 30, '07 8:46 PM
for everyone

Tirani selalu bermula dari sana: saat seseorang atau sekelompok orang atau sebuah rezim kehilangan respek dan penghargaan kepada orang lain atau kelompok lain atau rezim lain. Ketika respek dan penghargaan hilang, persepsi kita beralih ke dalam, kedalamnya diri , sang Aku. Lalu kita mulai memandang dari perspektif sang aku wilayah luar orang atau kelompok lain sebagai sesuatu yang terpisah dan asing, tidak berarti, tidak layak ada atau bahkan mengancam.

 

Saat itu hanya satu lagi yang ditunggu oleh tirani untuk muncul jadi kenyataan : kekuasaan yang melegitimasi. Itu sebabnya tirani selalu terkait dengan kekuasaan, sekecil apapun skalanya. Misalnya tirani dalam ruamah tangga, atau sekolah, atau oraganisasi, atau perusahaan, atau negara. Kekuasaan adalah otoritas netral yang bisa digunakan utuk melegitmasi apa saja. Godaanya justru teletak di situ; pada netralitasnya. Maka begitu respek dan penghargaannya lenyap dan berganti dengan kebencian, kekusaan segera memberi jalan mulus bagi tirani.

 

Begitulah pada mulanya Fir’un merasakan sang Aku menjadi Tuhan. Ketika respek dan penghargaannya hilang kepada kerumunan besar manusia bernama rakyat, ia mulai’meremehkan’ mereka. Setelah itu ia memobilisasi mereka lalu mendeklarasikan ketuhanannya. Dan serial tirani terbesar dalam sejarah manusia pun dimulai.

 

Tirani. Momok besar dalam sejarah mnusia ini selalu berkoalisi dengan kekuasaan. Tapi momok ini tetap bisa dilawan. Dan kekuatan yang bisa melawannya hanya cinta. Cinta adalah kutub jiwa yang berlawanan dengan tirani: ia lahir dari respek dan pengharagan kepada manusia. Begitu kekuasaan mendapatkan sentuhan cinta, wajahnya segera berubah: gurat-gurat kekejaman segera berganti jadi garis-garis kerentaan dari seorang penguasa yang lelah melayani rakyatnya.

 

Jika cinta adalah tindakan memberi, maka dari sanalah datangnya semua kebajikan dalam diri seorang penguasa: mendengar, melayani, membagi, melindungi, adil dan menyejahterakan. Jadi hanya dalam genggaman cinta kekuasaan berubah menjadi alat untuk melindungi, melyani dan menyejahterakan. Di sana sang Aku bukan lagi kuda liar yang setiap saat bisa melompat dari kandang dengan energi kekuasan. Sang Aku dalam genggaman cinta adalah mata air kebajikan yang pada suatu saat bertemu dengan hujan deras kekuasaan, maka jadilah ia banjir: kebajikan melimpah ruah dalam muara masyarakat manusia.

 

Dari tradisi kepemimpinan Amerika Serikat kita bertemu dengan ungkapan ini: “Jangan bertanya apa yang diberikan negara padamu, tapi bertanyalah apa yang kamu berikan untuk negara?” tapi dari tradisi nubuwwah kita mewarisi sabda yang diriwayatkan Muslim ini: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan meraka mencintai kalian, kalian mendoakam meraka dan mereka mendoakan kalian. Seburuk buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan meraka melaknat kalian.”

 


Blog EntryPesona KepribadianNov 15, '07 8:59 PM
for everyone
Kata Muhammad Quthb dalam Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyah, ada orang bisa mempesona kita dalam pertemuan pertama, tapi kemudian menjadi tidak menarik pada pertemuan selanjutnya. Karena seluruh pesonanya adalah pada fisiknya. Sebaliknya, ada orang yang biasa-biasa saja dalam pertemuan pertama , tapi semakin dalam kita mengenalnya, semakin jauh kita tertarik.

Jadi sesungguhnya kita semua memiliki lapisan kepribadian yang secara bertahap membentuk pesona kita. Lapisan kepribadian itu akan terurai secara perlahan melalui proses waktu. Dalam proses pengenalan itu pulalah terjadi fluktuasi  cinta. Misalnys si Lelaki berbadan besar dan kekar pada mulanya ia mungkin menyebarkan rasa aman dan mempesona wanita. Tapi jika dalam berbagai peristiwa kehidupannya ternyata kebenaran tidak bercokol dalam fisiknya yang besar kekar, maka gambaran akhir itu akan menghilangkan pesona  pertama lelaki tersebut.

demikian pula sering kita temukan pada wanita cantik yang kemudian tidak mempesona di mata suaminya karena lapisan ke 2 dari kepribadiannya yang buruk.  Jadi lapisan kepribadian itu akan kita kenal melaui proses waktu, dan medannya adalah peristiwa kehidupan. Pesoanal apisan pertama memberi kesan (impression), sedangkan lapisan kedua memberikan kenyataan (fakta).

Kita mungkin perlu mengulang-ulang pertanyaan ini."Apkah saya layak dicintai dalam waktu lama?"

(Anis Matta, Biar Kuncupnya Mekar jadi Bunga)

Blog EntryCinta Itu BungaNov 12, '07 12:26 AM
for everyone
Cinta itu bunga; bunga yang tumbuh mekar dalam taman hati kita. Taman itu adalah kebenaran. Apa yang dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan, dan memekarkan bunga itu adalah ; air dan matahari. Air dan matahari adalah kebaikan. Air memberikan kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberikan gelora kehidupan. Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yang bergulir secara sadar di ats wadah perasaan kita.

(Anis Matta)

Blog EntryKEKUATAN PERUBAHANNov 7, '07 11:56 PM
for everyone
Kakinya berdarah-darah. Orang-orang Thoif bukan saja menolak dakwahnya. Tapi juga menggunakan kekerasan untuk menolak dakwahnya, dan orang-orang mulia seperti Khadijah yang menjadi tulang unggungnya wafat, kini anak-anak Thoif melemparinya batu. Sampai berlumuran darah. Di saat seperti itulah Jibril datang menawarkan bantuan: biar aku hancurkan mereka semua!

Menggoda betul tawaran itu. Tapi, "Tidak!" jawab Rasulullah saw kepada Jibril. "Aku bahkan memohon penangguhan untuk mereka. Sungguh aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka anak-anak yang menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya." (Bukhari dan Muslim).

Seandainya ia seorang pendendam, ia pasti menerima tawaran Jibril itu. Tapi tidak! ia seorang pecinta. Dan ia sadar bahwa ia bisa mengubah komunitas pengembala kambing yang angkuh di jazirah Arab menjadi pemimpin peradaban dunia yang rendah hati: hanya dalam waktu 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, beliau merampungkan tugas kenabiannya dengan membawa seluruh jazirah kedalam cahaya Islam.

Cinta adalah kekuatan perubahan yang dahsyat. Lima belas abad kemudian, Erisck Fromm menjelaskan kekuatan cinta dalam proses perubahan:

"Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan dan mrnghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransferkan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan melemahkan. Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan 'efek samping' sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam. Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati. Menyelesaikan masalah dengan membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada kekuatan fisik." (Cinta, Seksualitas, Metriarki, Gender; 291;2002)

Kalo Erich Fromm menjelaskan kekuatan cinta dalam merubah individu dan masyarakat dengan bahasa psikososial, maka Iqbal menjelaskannya dalam bait-bait puisinya:
Kekuatan cinta bukan dari tanah, air dan udara
kekuatannya bukan kelihatan urat asalnya;
cinta menundukkan Khaibar tanpa kesulitan,
cinta membelah badan bulan,
cinta memecahkan tengkorak Nimrod tanpa pukulan,
menghancurkan tentara Fira'un tanap pertempuran.

Oleh : Anis Matta, Lc (Serial Cinta Tarbawi edisi 83, tgn 2004)

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help